Yang Muda Yang “Membangkitkan” Iptek Nuklir

Yang Muda Yang “Membangkitkan” Iptek Nuklir

Jakarta—Ilmu pengetahuan dan teknologi awalnya dikenal sebagai bagian dari ilmu alam yang bermanfaat bagi manusia. Namun penggunaan teknologi nuklir dalam perlombaan persenjataan di era Perang Dunia II dan beberapa dekade setelahnya mengakibatkan teknologi nuklir memiliki citra yang negatif sebagai senjata pemusnah massal dan perusak lingkungan.

Pengalaman kecelakaan pembangkit listrik di Chernobyl, Ukraina dan Fukushima Jepang seolah kembali memperkuat citra tersebut. Padahal dalam perkembangannya riset iptek nuklir selalu mengedepankan prinsip keselamatan dan keamanan. Iptek nuklir telah menghasilkan banyak produk jasa dan teknologi yang dapat mendukung meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Di Indonesia riset nuklir telah dimulai sejak setengah abad yang lalu. Riset iptek nuklir telah menghasilkan banyak hasil litbang yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai bidang. Selaras dengan program pemerintah dalam mendorong peran iptek untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa, litbang iptek nuklir harus dilaksanakan pada beberapa bidang yang menjadi fokus dalam pembangunan nasional di antaranya: bidang pangan, kesehatan dan obat-obatan, energi, industri, dan sumber daya alam lingkungan.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) secara berkesinambungan melakukan sosialisasi betapa pentingnya iptek nuklir bagi kemajuan suatu bangsa. Hal ini telah dibuktikan oleh beberapa negara industri maju seperti: Amerika Serikat, Prancis, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan.

Pemberitaan di media massa kerap gencar menampilkan bahaya nuklir sehingga persepsi masyarakat kurang memahami bahwa di sisi lain kehadiran iptek nuklir tak bisa dihindari untuk membantu memecahkan persoalan manusia seperti ketersediaan pangan dan energi. Demikian juga iptek nuklir memberi kontribusi di bidang kedokteran dan obat-obatan.

Tak pelak persepsi Irene, siswa kelas 12 SMA Gita Kirti, Jakarta, yang ditemui saat mengunjungi Atomos Expo 2013 lalu menga- takan bahwa iptek nuklir sangat berbahaya, karena nuklir merupakan senjata pemusnah massal. Namun setelah mengetahui bahwa iptek nuklir itu bisa digunakan untuk kepentingan kesejahteraan, Irene sangat mengagumi iptek nuklir yang demikian besar sumbangannya bagi kemaslahatan manusia.

Demikian juga yang dipahami Farhan, siswa kelas 12 SMA Negeri 4 Tangerang, dia mengetahui keguna- an nuklir hanya untuk rudal dan bom. Dan pengetahuan tentang bahaya nuklir itu di-pe-rolehnya dari media massa, seperti televisi. Lambat laun setelah membaca dan mendalami iptek nuklir, ia mengakui bahwa persepsinya selama ini keliru.

Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir BATAN Falconi Margono Sutarto mengatakan bahwa keberadaan iptek nuklir sudah semestinya dipahami secara positif oleh generasi muda. “Jika pemuda tidak mendukung, maka Indonesia akan tertinggal jauh oleh negara-negara lain baik di tingkat dunia maupun di level ASEAN,” ungkapnya.

Generasi muda, imbuh Falconi, harus menjadikan iptek nuklir sesuatu yang indah. “Karena penting untuk didalami keberadaannya,” tutur Falconi. Generasi muda adalah agen perubahan, hendaknya nuklir djadikan ilmu pengetahuan yang bersahabat dan pemuda mempunyai tanggung jawab visi 2025. “Iptek nuklir bila dikelola dengan baik, kemudian dikembangkan, nantinya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi bisa diekspor ke negara lain,” tegas Falconi.

Sementara itu Agung Pramono, Dosen Teknik Mesin dari Universitas Jakarta, mengatakan bahwasanya harus sejak dini generasi muda mengenal iptek nuklir. Mereka harus diberi pemahaman bahwa energi yang berasal dari fosil berupa batubara dan minyak ketersediannya hanya tinggal dua puluh tahun lagi. “Salah satu energi yang dimungkinkan untuk dikembangkan adalah berasal dari nuklir,” katanya.

Dilihat dari aspek pendidikan tentang nuklir Agung menyayangkan hingga kini perguruan tinggi yang menyediakan jurusan tentang nuklir hanya dua: Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir dan Universitas Gajah Mada (UGM). “Bagaimana Indonesia bisa mengejar ketertinggalan di bidang iptek nuklir, bila wahana pendidikan tentang iptek nuklir tidak tersedia banyak. Untuk memajukan iptek nuklir tidak hanya tanggung jawab BATAN, tapi tanggung jawab kita semua, khususnya generasi muda,” imbuhnya.

Bila dikaitkan dengan bahaya nuklir, generasi muda mesti memahami bahwa rokok yang dihisap itu juga berbahaya, tetapi karena sudah terbiasa, maka dianggap biasa saja. Padahal merokok bisa menimbulkan penyakit kanker. Kena- pa dengan rokok tidak takut, malah dengan nuklir takut. Padahal, Indonesia sudah cukup dikenal, dalam pengelolaan nuklir. “BATAN mendapat pujian dan penghargaan dari masyarakat interna-sional dari segi keselamatan dan keamanannya,” ungkap Agung lagi.

Di kawasan Asia Pasifik akan segera dibangun 46 unit PLTN. Negara-negara ASEAN seperti Malaysia dan Vietnam akan segera memba-ngun PLTN. Demikian pula de-ngan negara yang kaya akan sumber minyak, Uni Emirat Arab. “Bahkan negeri seperti Bangla- desh yang masih kalah jauh kemajuannya dengan Indonesia akan segera membangun PLTN. Apakah bangsa Indonesia akan menjadi penonton?,” katanya.

Pengalaman Ichda dan Muzaki yang mendapat bea siswa dari BATAN di Universitas Indonesia menceirtakan pengalamannya di Jepang, ketika mengikuti kunjungan ke pusat pengolahan nuklir dan partikel di Jepang. “Kami merasakan Indonesia tertinggal jauh dalam memanfaatkan nuklir dan partikel,” ungkap Ichda yang berasal dari Ranah Minang. Di Jepang sana yang membiayai pengolahan partikel itu bukan hanya pemerintah tetapi perusahaan besar seperti Toshiba turut membangun.

Dari rasa ketertinggalan itulah, Ichda dan Muzaki berharap bahwa bidang iptek nuklir sangat membutuhkan generasi muda untuk memajukan iptek nuklir di masa yang akan datang. “Jangan takut dengan nuklir. Pelajarilah dan dalami iptek nuklir, karena ke depan iptek nuklir berperanan penting dalam industri dan memenuhi kebutuhan energi,” kata Muzaki.

Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Demikian pula dengan riwayat iptek nuklir Indonesia, tergantung hari ini.

Kenali IPTEK Nuklir Gunakan Manfaatnya

Kenali IPTEK Nuklir Gunakan Manfaatnya

Jakarta—Keberadaan teknologi nuklir, oleh sebagian masyarakat diper­sepsi­kan sebagai senjata, bom, atau hal-hal lain yang negatif. “Padahal, keberadaan nuklir, pe­man­faatan dan penerapannya di berbagai sektor: kesehatan, perta­nian, rumah sakit dan lain-lain,” de­mi­kian diungkapkan oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof. Dr. Ir. Djarot Sulistio Wisnusubroto, pada acara pembu­ka­an ATOMOS EXPO 2013, di Stadion Tennis Indoor Senayan, Ja­ka­rta, Jumat, 29 Nopember 2013.

Oleh karena itu, kata Djarot, pentingnya menggelar pameran ATOMOS EXPO 2013 agar masya­rakat dapat memahami secara fakta bahwa bangsa Indonesia sudah mampu menguasai tekno­logi nuklir dan mengem­bangkan­nya untuk tujuan kesejahteraan. “Melalui berbagai hasil karya nyata yang diperagakan, diharapkan masya­rakat dapat memahami bahwa nuklir dapat digunakan untuk memajukan dan mensejah­terakan kehidupan manusia, dan tidak selalu digunakan untuk senjata atau bom,” papar Djarot.

Dijelaskan juga oleh Djarot bahwa event ATOMOS EXPO khusus menggelar produk-produk teknolo­gi hasil karya anak bangsa di bi­dang nuklir dan pemanfaatannya yang sudah meluas di berbagai sector pembangunan. Kegiatan ini sebagai media sosialisasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat luas tentang kemam­puan bangsa sendiri yang sudah menghasilkan banyak karya di bidang nuklir dan memiliki peran dalam pembangunan nasional.

Penyelenggaraan ATOMOS EXPO 2013 ini bertepatan dengan ulang tahun ke-55 BATAN, tepatnya tanggal 5 Desember. ”Kalau disa­ma­kan dengan manusia angka 55 ini, usia yang cukup matang. Artinya sesuatu yang sangat senior dan professional,” ujar Djarot, yang disambut tepuk tangan para tamu yang hadir di antaranya Menristek Prof. Dr .Ir .H. Gusti Muhammad Hatta, MS, perwakilan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Balitbang Kementerian Pertanian dan para tamu dari berbagai instansi lainnya.

Untuk member gairah dan sema­ngat baru, BATAN meperkenalkan logo BATAN yang baru. ”Diharap­kan dengan logo baru yang lebih kinclong dengan warna-warni yang ra­mah dan disukai, BATAN dan nuklir bias lebih ingin dikenali, lebih ber­sahabat terhadap masyarakat,” tutur Djarot, sembari menayangkan logo baru BATAN yang lebih cerah de­ngan warna 'ngejreng' paduan war­­na kuning, merah, hijau dan biru.

Pada kesempatan itu, Djarot juga menyampaikan hasil jajak penda­pat nasional yang dilakukan sela­ma tiga tahun terakhir tentang pe­man­faatan teknologi nuklir. Hasil jajak pendapat nasional itu 76,5 persen responden setuju peman­faatan iptek nuklir di Indonesia. ”Khusus untuk energy Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), 60,4 persen responden menyatakan setuju,” jelasnya.

Khusus jajak pendapat tentang pe­manfaatan iptek nuklir yang dilaku­kan di Jawa, Madura, dan Bali (Jamali), hasilnya lebih tinggi yakni 75 persen, sedangkan untuk PLTN 64,1 persen. “Angka ini bias menja­di acuan pemerintah dalam me­ngem­bangkan iptek nuklir dan pem­bangunan PLTN,” tegasnya lagi.

Mengenai logo BATAN yang baru lebih 'kinclong' dibandingkan yang lama, diamini oleh Menristek Prof. Dr .Ir .H. Gusti Muhammad Hatta, MS. Menurutnya, lambang BATAN yang baru ini lebih ramah dan lebih enak dilihat. Menristek juga meng­ungkapkan kebanggaannya terha­dap BATAN yang sangat professio­nal dan disiplin mengelola limbah nuklir selama 20 tahun. “Karena itu saya mendapatkan hadiah dari Wina berupa alat detektor,” katanya dengan nada bangga.

Meskipun dambaan untuk memiliki PLTN belum terealisasi, namun BATAN secara berkesinambungan melakukan riset dengan menggu­na­kan iptek nuklir untuk digunakan di bidang lainnya. ”Seperti di bidang pertanian, padi kita yang biasanya hanya menghasilkan lima sampai enam ton perhektar, dengan meng­gunakan iptek nuklir produksi padi mencapai Sembilan bahkan sepu­luh ton perhektar. Iptek nuklir juga digunakan bagi bidang kesehatan, semisal terapi penyakit kanker,” ungkapnya.

Bahkan katanya, dia merasa kagum ketika mendengar ipktek nuklir juga bias dipergunakan untuk lebih mengawetkan makanan se­ma­cam makanan rendang, gudeg dan pepes. ”Kegiatan pemanfaatan seperti ini, diharapkan bias lebih mengakrabkan lagi nuklir kepada masyarakat,” tuturnya. Dan, dije­las­kannya bahwa makanan itu aman untuk dikonsumsi, dengan begitu pemahaman masyarakat akan iptek nuklir lebih baik lagi.

Pada kesempatan itu Menristek menceritakan pengalamannya ketika dia menjadi Menteri Lingku­ngan Hidup yang lalu. Pada satu acara di televisi, dia dihadapkan dengan Menristek yang menjelas­kan tentang pemanfaatan teknik nuklir. ”Sepertinya saya akan diadu, dan dikiranya saya akan menge­luarkan statement anti nuklir. Tapi, host atau moderator itu kecewa karena sebagai Menteri Lingku­ngan Hidup ketika itu saya mendu­kung penggunaan iptek nuklir. Dan, entah sudah rencana Tuhan, mung­kin, saya sekarang malah ditunjuk sebagai Menristek,” ujar Gusti men­ce­ri­takan pengalamannya yang unik itu.

Menrisitek memberi apresiasi yang besar bagi terselenggaranya ATOMOS EXPO 2013 ini. Diharap­kan dengan terseleng­garanya ATOMOS EXPO ini dapat membu­ka mata masyarakat Indonesia lebih luas lagi bahwa iptek nuklir sangat bermanfaat bagikemajuan bangsa dan meningkatkan taraf hidup manusia. Lebih jauh lagi dia mengutip kalimat dari kitab suci al-Quran bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan itu tidak ada yang sia-sia.“Yang penting apa yang sudah diciptakan Tuhan yang disediakan di alam ini digunakan untuk kemaslahatan umat manu­sia,” tegasnya.

Pada kesempatan itu Menristek beserta staffnya, didampingi oleh Kepala BATAN, meninjau beberapa booth di arena ATOMOS EXPO 2013. Dia pun sangat antusias men­de­ngar­kan penjelasan dari penjaga booth yang dihampirinya. “Saya senang melihat anak-anak sekolah yang berkunjung kesini. Masa de­pan ada di tangan mereka, terma­suk pengelolaan dan pengembang­an iptek nuklir di masa depan,” ka­ta­nya sembari memperhatikan gene­ra­si muda, anak-anak SLTA, yang berkunjung berombongan dan me­ra­­mai­kan pameran ATOMOS EXPO 2013.

Penyelenggaraan ATOMOS EXPO 2013 bertema 'Perkembangan dan Peran Teknologi Nuklir dalam Pem­ba­ngu­nan Indonesia' berlangsung pada 29 Nopember – 1 Desember, diikuti oleh 28 instansi dan perusa­ha­an. Kegiatan ini mengajak ma­sya­rakat untuk lebih mengenal nuklir dengan konsep yang populer 'ATOMOS DAY' dalam bentuk pameran produk dan jasa teknologi nuklir, pameran interaktif sains nuklir, pameran foto teknologi, nuklir, mini games, ICT nuklir dan pa­me­ran sejarah dan masa depan nuklir. Juga diselenggarakan aero­bic dan flash mob serta pembagian door prize bagi semua pengunjung dari masyarakat umum.

Seberkas Nuklir Menyinari Kesehatan

Seberkas Nuklir Menyinari Kesehatan

Di negara-negara maju pemanfaatan teknik nuklir selain untuk memenuhi kebutuhan energi listrik, juga dikembangkan untuk meningkatkan produk pertanian. Demikian pula dengan kesehatan, teknik nuklir berperan penting untuk mengatasi penyakit seperti kanker tiroid dan kanker tulang, leukimia, dan lain sebagainya.

Sampai saat ini, Indonesia belum memanfaatkan teknologi nuklir untuk memasok energi listrik. Namun, di bidang pertanian, peternakan, dan juga kesehatan, teknik nuklir sudah digunakan sejak lama. Khususnya di bidang kedokteran nuklir Indonesia lebih dahulu mengenal meski pada waktu-waktu berikutnya Indonesia selalu tertinggal.

Seringkali kita mendengar, setiap terserang penyakit kanker, masyarakat Indonesia yang golongan berpunya, pergi berobat ke manca negara termasuk ke rumah sakit di Singapura. Di negeri itu tersedia rumah sakit yang menyediakan peralatan dengan teknologi canggih dalam menangani pasien penderita kanker. Dalam dua dekade ini sekitar 70% hingga 80% pengidap kanker berobat ke sana. Berapa besar devisa ditampung di sana?

Padahal, perkembangan kedokteran nuklir yang salah satunya pengobatan bagi penderita kanker sudah dikenal di Indonesia sejak tahun 1965, tidak lama setelah reaktor atom pertama diresmikan beroperasi oleh Presiden Soekarno. “Perkembangan kedokteran nuklir di Indonesia sangat lambat,” ujar Prof. Dr. dr. Johan S. Masjhur, SpPD-KEMD, SpKN, saat ditemui di MRCCC Hospital Semanggi, Jakarta baru-baru ini.

“Disebabkan tidak cukupnya fasilitas yang tersedia di rumah sakit-rumah sakit dalam negeri, tak salah juga bila mereka, golongan the haves itu berobat ke Singapura atau ke negara lainnya,” tutur pria yang dijuluki Bapak Kedokteran Nuklir Indonesia itu. Indonesia akan selalu tertinggal dalam perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran apabila tidak berusaha meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, sumber daya manusia dan prasarana lainnya.

Ikhwal lainnya yang turut menghambat kemajuan kedokteran nuklir di Indonesia hadirnya fobia nuklir dan persepsi yang salah terhadap kedokteran nuklir. Fobia nuklir memang merupakan penghalang utama bagi berkembangnya kedokteran nuklir. “Tanpa bermaksud menutup-nutupi betapa dahsyatnya bahaya nuklir bagi kehidupan, perlu disadari bahwa radiasi yang digunakan dalam teknologi kedokteran nuklir yang berasal dari radionuklida buatan sangat-sangat kecil. Ibaratnya seperti butiran pasir yang diperoleh dari mencongkel bukit karang dengan tusuk gigi,” ungkap Johan.

Dari berbagai data penelitian diketahui bahwa besarnya radiasi yang diterima oleh pasien yang menjalani pemeriksaan atau pengobatan dengan kedokteran nuklir tidak lebih besar, bahkan seringkali lebih kecil, dibandingkan yang menjalani pemeriksaan radiologi atau terapi radiasi eksternal yang telah puluhan tahun dijalani umat manusia. Kekhawatiran atau fobia nuklir terhadap prosedur pemeriksaan atau terapi kedokteran nuklir tidak beralasan sama sekali. Perlu upaya terus menerus untuk mensosialisasikan peran dan kontribusi kedokteran nuklir dalam mengatasi masalah kesehatan.

Faktor penghambat lain perkembangan kedokteran nuklir di Indonesia adalah sebagaimana halnya dengan negara-negara berkembang lain dalam menghadapi masalah kesehatan yang kompleks. Di satu sisi Indonesia masih menghadapi masalah kesehatan dasar seperti penyakit akibat kurang gizi atau gizi buruk, penyakit infeksi, dan masalah kesehatan ibu dan anak, tetapi di sisi lain dengan meningkatnya status ekonomi kalangan tertentu, bermunculan pula penyakit degeneratif, keganasan, dan serebrokardiovaskuler. Prevalensi diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, stroke, dan kanker menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dalam dua dekade ini.

Kedua masalah tersebut tentu memerlukan perhatian. Mengatasi masalah penyakit degeratif, keganasan, neurologi dan kardiovaskuler memerlukan investasi yang sangat tinggi antara lain obat-obatan dan pengadaan alat-alat diagnostik dan terapi kedokteran canggih termasuk alat-alat kedokteran nuklir. Prioritas program pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini tentu untuk penyakit-penyakit tersebut, walaupun tidak boleh diabaikan sama sekali.

Namun demikian, Johan bersyukur, di kota-kota besar terutama rumah sakit-rumah sakit swasta, sudah mulai tampak upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi golongan the haves ini, yang sayangnya belum terjangkau oleh sebagian besar masyarakat kita yang memerlukan.

Pelayanan kedokteran nuklir di Indonesia pada awalnya masih satu atap dengan Pusat Reaktor Atom Bandung. Baru pada tahun 1971, menempati gedung baru yang didirikan khusus untuk Bagian Kedokteran Nuklir di lingkungan RS Dr. Hasan Sadikin Bandung dan berdiri pula Bagian Kedokteran Nuklir RSP Pertamina Jakarta. Kemudian menyusul dengan berdirinya unit-unit kedokteran nuklir di RSCM Jakarta, RS Gatot Subroto Jakarta, RS Dr. Sutomo Surabaya, dan RS Dr. Sardjito Yogyakarta. Pada tahun 1990-an bertambah lagi di RS Dharmais Jakarta, RS Harapan Kita Jakarta (khusus Kardiologi Nuklir), Dr. M. Djamil Padang, RS Dr. Kariadi Semarang, dan RS Dr. Wahidin Makassar.

Pada tahun tahun 2000-an, mulai pula beroperasi unti kedokteran nuklir di MRCCC Siloam Hospital Jakarta dan RS Abdi Waluyo Jakarta, RS Gading Pluit Jakarta, dan terakhir pada tahun 2012 di RS Adam Malik Medan. Menurut data, pada saat ini hanya Bagian Kedokteran Nuklir di RSHS, RSCM, RS Gatot Subroto, RSP Pertamina, RS Kanker Dharmais, dan MRCCC Siloam Hospital yang beroperasi penuh. Sedangkan yang lainnya masih dalam status “setengah aktif”.

Tantangan yang tak kalah pentingnya adalah rendahnya minat para dokter dan tenaga kesehatan lainnya mendalami bidang kedokteran nuklir. Hal ini dapat dimengerti karena kedokteran nuklir secara finansial memang kurang menjanjikan dibandingkan dengan spesialisasi kedokteran lain, seperti kebidanan dan penyakit kandungan bedah, kardiologi, kesehatan anak, penyakit dalam, dan lain sebagainya.

Istilah kedokteran nuklir mengacu pada penggunaan radionuklida untuk mendiagnosa dan mengobati penyakit berdasarkan prinsip fisilogi dan biokimia. Sedangkan istilah pencitraan molekuler mengacu pada penggunaan petanda biologik (biomarkers) untuk visualisasi perubahan fisilogi dan biokimia yang terjadi pada suatu penyakit di tingkat seluler dan molekuler. Pencitraan molekuler sejak awal merupakan pilar dari kedokteran nuklir, yang sekarang lebih dipertegas dan diperkuat lagi dengan kamera PET (Positron Emission Tomography) dan SPECT (Single Photon Emission Tomography).

Teknik kedokteran nuklir mulai digunakan secara luas sejak awal tahun 1950-an, setelah ditemukan dan dikembangkannya berbagai radionuklida buatan dan radiofarmaka, serta beroperasinya berbagai alat deteksi radiasi.

Radiofarmaka bila disuntikkan atau diminum dan masuk ke dalam tubuh pasien, akan terkumpul di suatu organ tertentu atau diresptor sel/molekul. Dengan teknik kedokteran nuklir dimungkinkan diperoleh citra dari suatu proses penyakit dalam tubuh, berdasarkan perubahan fungsi seluler/molekuler dan fisiologi dari organ tersebut, dan tidak hanya atas dasar perubahan fisik anatomi yang terjadi.

Efek pengobatan dengan radiofarmaka berdasarkan pada kemampuan radionuklida untuk menghancurkan jaringan sasaran, melalui radiasi pengion yang dipancarkannya, dengan efek seminimal mungkin pada jaringan normal.

Dengan teknik kedokteran nuklir dapat dievaluasi suatu penyakit pada tingkat molekul memprediksi perjalanan penyakit, membantu merancang pengobatan yang spesifik, memantau khasiatnya, serta melakukan penyesuaian bila ternyata pengobatan tersebut tidak efektif. Selain itu teknik kedokteran nuklir banyak digunakan dalam proses perancangan dan pengembangan obat-obatan.

Dijelaskan oleh Johan dalam bidang pengobatan, kedokteran nuklir belumlah banyak. Teknik nuklir lebih banyak digunakan untuk mendiagnosis penyakit. Hanya beberapa penyakit diantaranya untuk penyakit kelenjar tiroid, kanker darah, leukimia, nyeri tulang karena kanker. Penyakit-penyakit itu sulit diobati dengan pengobatan lain. Memang harus dengan teknik nuklir.

Perkembangan kedokteran nuklir di Indonesia tak lepas dari fungsi dan peran Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), sebagai lembaga yang diberikan kewenangan untuk mengembangkan manfaat nuklir. Diantaranya pemanfaatan di bidang kesehatan, tentu di dalamnya berkaitan dengan kedokteran nuklir.

Menurut Dra. Siti Darwati M.Sc, Kepala Pusat Radioisotop dan Radiofarmaka BATAN, sebagai lembaga penelitian dan pengembangan atau litbang tidak boleh memberikan secara langsung hasil penelitian itu kepada masyarakat tetapi melalui kerjasama dengan PT Kimia Farma.

Dalam kaitannya dengan kedokteran nuklir, dalam hal ini radiofarmaka PET, teknologinya sudah bisa digunakan, seperti FDG dan FLT. “Kami sudah mengarah ke situ,” ungkap Siti Darwati. Semuanya tak kurang ada 7 macam yang sudah diproduksi oleh PT Kimia Farma diantaranya ada MIBI untuk jantung, kemudian DTPA untuk ginjal, dan MDP untuk scan tulang, serta samarium untuk kanker metastasis. “Semuanya sedang dalam pengurusan untuk mendapatkan nomor izin edarnya atau NIE dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), tinggal mengkomunikasikannya dengan rumah sakit,” jelas Siti Darwati.

Produk-produk hasil litbang BATAN harus melalui uji klinis, dalam hal ini BATAN bekerja sama dengan RS Hasan Sadikin Bandung. ”Karena produk-produk hasil litbang BATAN prosedurnya harus melalui uji klinis. Dari laboratorium, diuji ke hewan, baru kemudian ke manusia. Itu pun kami perhatikan juga tingkat keamanan, baru kemudian kami minta izin dari komite etik. Idealnya yang melakukan uji klinis itu adalah rumah sakit pendidikan,” kata Siti Darwati. Dalam waktu dekat ini produk hasil litbang BATAN untuk jantung segera beredar, dan sudah akan digunakan di rumah sakit-rumah sakit.

Kini, papar Siti Darwati, sedang dikembangkan adalah terapi bersasaran menggunakan radiofarmaka bersasaran (targeted radionuclida therapy). Efek radiasi diupayakan semaksimal mungkin ke sasaran, dan seminimal mungkin ke jaringan atau organ lain. Agar terapi radiofarmaka bersasaran efektif diperlukan pemilihan radiofarmaka yang tepat, penentuan sasaran, perancang vektor dan sistem penghantar, pengetahuan radiobiologi, serta bagaimana aplikasi kliniknya. “Misalnya, ada kecurigaan di hati kalau disuntikkan radiofarmaka, hanya target penyakitnya langsung yang kena sehingga radioisotop itu tidak kemana-mana,” tegasnya lagi.

Sejak Lama Indonesia Telah Menguasai Iptek Nuklir

Sejak Lama Indonesia Telah Menguasai Iptek Nuklir

JAKARTA—Kemajuan teknologi di berbagai aspek kehidupan manusia kian pesat. Hampir setiap hari ada saja inovasi teknologi. Bidang teknologi informasi misalnya, makin mendekatkan jarak antar pulau antar negara bahkan antar benua. Laga sepakbola papan atas di luar negeri dapat disaksikan melalui televisi pada waktu yang bersamaan di seluruh dunia. Teknologi juga sampai ke dapur rumah tangga, mulai dari kompor gas, alat pembuat jus, sampai teknologi yang lebih berat dan canggih lagi, pesawat ulang alik ke ruang angkasa, robot yang dapat melakukan apa saja, dan masih banyak lagi. Teknologi diciptakan untuk mempermudah menyelesaikan masalah manusia, lahir dari pemikiran manusia juga. Teknologi merupakan penanda berkembangnya peradaban manusia. Kini dan sampai masa yang akan datang, inovasi teknologi di berbagai bidang akan terus berkembang.

Kemajuan teknologi di manapun akan turut dirasakan oleh manusia dari bagian dunia lainnya termasuk Indonesia, teknologi nuklir contohnya. Ketika nuklir ditemukan awal abad ke-20 di Eropa, tak lama kemudian Indonesia pun sudah mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir. Tahun 1956 Indonesia sudah mulai mengelola nuklir. Kini teknologi nuklir kian berkembang pesat, bukan hanya untuk kepentingan energi semata, lebih dari itu nuklir memberi kontribusi yang besar bagi kemajuan teknologi bidang lainnya. Saat ini, lebih dari 30 negara telah memanfaatkan teknologi nuklir untuk pembangkitan listrik (PLTN). Di negara-negara yang sudah akrab dengan nuklir, teknologi bersumber uranium itu sudah dimanfaatkan di bidang lainnya, seperti kesehatan, pangan, industri, dan lingkungan. Indonesia sendiri, sampai saat ini pemanfaatan teknologi nuklir belum diaplikasikan untuk energi listrik. Namun bidang lainnya sudah tersentuh oleh nuklir. Bidang medis misalkan, rontgen atau sinar-X sesungguhnya menggunakan teknologi nuklir. Demikian juga radiasi dan zat radioaktif digunakan untuk tujuan terapi penyakit, dan perawatan efektif bagi penderita kanker. Lembaga yang ditugasi mengembangkan teknologi ini, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), terus berinovasi melakukan pengembangan iptek nuklir untuk kesejahteraan masyarakat. Di bidang pangan, litbangyasa BATAN dilakukan untuk perbaikan varietas tanaman pangan. Salah satunya adalah mengetahui komposisi zat yang dibutuhkan suatu tanaman. Bahkan dengan teknik mutasi, radiasi dapat digunakan untuk memperbaiki sifat tanaman, sehingga mampu berdaya hasil tinggi, berumur genjah dan tahan terhadap hama penyakit, serta adaptif pada kondisi agroklimat Indonesia.

Dari hasil kegiatan litbang tersebut telah diperoleh 20 varietas unggul padi, 8 varietas unggul kedelai, 2 varietas unggul kacang hijau, 1 varietas unggul sorgum dan kapas. Selain itu masih meneliti tanaman gandum untuk daerah tropis. Aplikasi lainnya yaitu pembuatan inokulan mikroba pengurai limbah organik dan perunut untuk remediasi lahan marginal. Manfaatnya adalah meningkatkan kesehatan tanah dan tanaman, mampu mereduksi beberapa logam berat, dan meningkatkan efisiensi unsur hara tanaman. Teknologi nuklir dapat digunakan untuk pemandulan vektor malaria. Teknik yang lazim disebut Teknik Serangga Mandul (TSM) dinilai layak menjadi suatu metode pemberantasan nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) setelah terbukti banyak wilayah yang nyamuknya makin resisten terhadap metode "fogging" (pengasapan).Cara pemandulannya muk / vektor adalah dengan cara radiasi ionisasi yang dikenakan pada salah satu stadium perkembangannya. Radiasi pemandulan ini dapat menggunakan sinar gamma, sinar-X atau neutron.

Teknik irradiasi pada makanan mampu mengawetkan bahan makanan seperti rendang daging dan pepes ikan sampai berbulan-bulan. Radiasi dengan dosis aman tertentu digunakan untuk menghancurkan mikroorganisma; bakteri, virus atau serangga yang diperkirakan berada dalam makanan. Jenis radiasi yang digunakan adalah sinar gamma, sinar X dan elektron yang dikeluarkan oleh pemercepat elektron. Teknik ini juga dapat digunakan untuk menunda pertunasan pada komoditi ekspor non migas, seperti kekacangan, rempah-rempah, dan buah-buahan. Sehingga ketika sampai di negara tujuan bahan makanan masih tetap segar dan layak dikonsumsi.

Bila diperhatikan jumlah energi yang efektif untuk radiasi cukup rendah dibandingkan dengan memasak bahan makanan yang sama hingga matang. Bahkan energi yang digunakan untuk mengir­radiasi 10 kg bahan makanan hanya mampu memanaskan air hingga mengalami kenaikan temperatur sebesar 2,5 derajat Celsius.

Di sektor industri, teknologi nuklir dapat dimanfaatkan di bidang pertambangan untuk eksplorasi minyak dan gas. Nuklir berperan dalam menentukan sifat dari bebatuan sekitar porositas dan litografi. Teknologi ini melibatkan penggunaan neutron atau sumber energi sinar gamma dan detektor radiasi yang ditanam dalam bebatuan yang akan diperiksa.

Demikian juga untuk konstruksi jalan, teknologi nuklir digunakan untuk mengukur kelembaban, kepadatan tanah, aspal, dan beton. Disamping itu nuklir dapat digunakan menentukan kerapatan atau kepadatan suatu produk industri. Misalnya menentukan kepadatan tembakau pada rokok, digunakan Sr-90. Kegunaan lainnya untuk menentukan ketebalan kertas. Selain itu juga dapat mengetahui keropos las-lasan bagian dalam pada logam.

Tersedianya sumber energi listrik adalah sektor yang sangat krusial. Energi yang berasal dari fosil seperti BBM dan gas, ketersediannya semakin menipis dan termasuk energi yang tidak terbarukan. Namun sayangnya, sampai saat ini Indonesia belum berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). PLTN mampu menyediakan energi listrik berdaya besar, sehingga dapat mengurangi beban kebutuhan listrik yang selalu meningkat. Padahal perkembangan energi nuklir di dunia sudah menguasai pangsa sekitar 16% listrik dunia. Hal ini menunjukkan bahwa nuklir adalah sumber energi potensial, berteknologi tinggi, berkeselamatan handal, ekonomis, dan berwawasan lingkungan, serta merupakan sumber energi alternatif yang layak untuk dipertimbangkan dalam Perencanaan Energi Jangka Panjang bagi Indonesia guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Selain bidang yang dipaparkan di atas, Peneliti BATAN akan terus mengembangkan inovasi teknologi untuk bidang lain yang bermanfaat bagi kehidupan. BATAN bertekad teknologi nuklir akan banyak diman­faatkan untuk memberi andil demi kemajuan Indonesia. Dengan menguasai teknologi, maka akan mengangkat marwah Indonesia dan sejajar dengan bangsa lain. Sehingga dengan teknologi nuklir, semua menjadi mudah, dan tentu saja aman!.

Pilihan Terbaik, Nuklir Atasi Krisis Energi

Pilihan Terbaik, Nuklir Atasi Krisis Energi

JAKARTA—Setiap kali kenaikan harga BBM kita selalu panik dan terpikir untuk mencari sumber energi alternatif. Karena kita tahu, ketergantungan negeri ini terhadap bahan bakar minyak (BBM) dan gas sangat tinggi. Sedangkan,cadangan minyak bumi Indonesia hanya sembilan miliar barel (Kemen. ESDM, 2013) yang diperkirakan habis selama 18 tahun dengan laju produksi rata-rata 500 juta barel per tahun. Pemerintah telah berupaya guna mengatasi persoalan kekurangan energi yang mendekati krisis ini. Di antaranya diversifikasi dan konservasi energi. Diversifikasi energi atau penganekaragaman pemakaian energi dengan meningkatkan pemanfaatan energi:nuklir, surya, biomassa, angin, air dan panas bumi. Sedangkan konservasi energi meliputi pemanfaatan energi yang efisien dan menerapkan manajemen energi di semua sektor yaitu sektor industri, transportasi, rumah tangga dan komersial. Terdapat keinginan untuk mendorong penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mengimbangi penurunan penggunaan energi fosil. Salah satu jenis EBT yang kemungkinan dikembangkan adalah energi nuklir. Pengembangan ini dilakukan mengingat beberapa kelebihan dari energi nuklir, diantaranya, bahan bakarnya tidak mahal dan ramah lingkungan. Energi yang dihasilkan sangat besar dan tidak mempunyai efek gas rumah kaca serta hujan asam.

Energi nuklir bisa dijadikan pendamping sumberdaya energi berbasis hidrokarbon. Kedua energi tersebut bisa memenuhi kebutuhan energi nasional untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Penggunaan teknologi nuklir sebagai salah satu sumber energi listrik telah dikembangkan sejak tahun 1950an. Tidak kurang dari 31 negara menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai sumber energi di negaranya saat ini. Di antaranya: Amerika Serikat, Perancis, Rusia, India, Pakistan, Brazil, Argentina, dan Vietnam. Dua negara Asia Tenggara lainnya Malaysia dan Thailand menyusul. Kedua negara yang belakangan mengenal teknologi nuklir itu sudah membentuk tim persiapan pembangunan PLTN. Sayangnya, meskipun di kawasan Asia Tenggara, Indonesia lebih dahulu memiliki dan menguasai teknologi nuklir dan mempunyai SDM yang cukup mumpuni, hingga hari ini belum bergerak dari wacana. Padahal payung hukum dan regulasi yang mendampinginya sudah tersedia. Bahkan, semestinya PLTN sudah didirikan pada tahun 2010.

Sejak 1954, pemerintah melalui Lembaga Tenaga Atom (LTA)---yang kini menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)--- mempersiapkan visi besar bangsa Indonesia dalam pemanfaatan teknologi nuklir sebagai sumber energiuntukmencukupi kebutuhan nasional. Namun PLTN belum berdiri di tanah Indonesia. Padahal Indonesia sebagai negara terbesar keempat penduduknya yang memiliki 250 juta manusia membutuhkan energi terutama listrik dalam menjalankan aktivitasnya, Ketersediaan energi listrik tersebut masih jauh dari cukup bahkan untuk aktivitas konsumsi sekalipun Mempertimbangkan perbandingan 20 gram uranium setara dengan 2 ton batu bara, menyebabkan negara-negara maju berlomba-lomba membangun PLTN untuk mendukung kemajuan bangsanya. Fakta menunjukkan bahwa negara yang sudah memiliki PLTN mempunyai tingkat ekonomi yang kuat dan ketersediaan energi mereka terjamin. Disamping itu, udara tetapbersih, tidak tercemari polusi Karena PLTN bersifat rendah emisi karbon. Ketersediaan energi listrik Indonesia masih jauh dari cukup bahkan untuk aktivitas konsumsi sekalipun. Nilai konsumsi energi listrik rakyat Indonesia 588 KWh perkapita yang menempati nomor tiga terendah di ASEAN. Sedangkan dari sisi elektrifikasi jaringan listrik di Indonesia baru menjangkau 67% rakyat Indonesia. Angka 67% belum mempertimbangkan kualitas, kuantitas dan realibilitas energi listrik yang tersalurkan.

Dengan kondisi listrik yang demikian, Indonesia harus mengejar pembangunan infrastruktur listrik. Pembangunan pembangkit dengan kapasitas besar menjadi agenda utama. Saat ini memprioritaskan pembangunan PLTU batubara untuk mengejar penyediaan energi listrik. PLTN berbahaya? PLTN selalu dikaitkan dengan bom nuklir dan bom radiasi. Teknologi apapun memiliki sisi manfaat dan sisi pengrusakan. Sebilah pisau akan memberi manfaat ditangan seorang koki dan sebaliknya akan berbahaya jika dipegang seorang penodong. Begitu juga dengan teknologi nuklir. Keamanan dan keselamatan akan dijamin di tangan orang-orang yang bermimpi untuk memanfaatkan energi nuklir sebagai sumber energi listrik. Kemampuan SDM serta penguasaan teknologi nuklir yang dimiliki BATAN sekarang ini, menjadi modal utama dalam mendirikan PLTN dalam waktu dekat.Indonesia harus mempunyai sikap jelas dalam menghadapi kemungkinan krisis listrik di masa depan. Menjadikan energi nuklir sebagai solusi mengatasi krisis merupakan pilihan yang terbaik.

So, tunggu apa lagi....?

Peran Teknologi Nuklir Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

Peran Teknologi Nuklir Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

JAKARTA. Ketersediaan pangandi Indonesia selalu menjadimasalah krusial setiap tahunnya.Beberapa komoditi pangan sepertiberas, daging dan kedelai memaksa pemerintah harus melakukanimpor disebabkan produksinasional tidak mencukupi. Bahkan untuk gandum ketersediaannya100 persen impor. Gandum, bahan pembuat roti dan mie,sangatdigemari oleh masyarakatIndonesia akhir-akhir ini..Khusus untuk kebutuhan beraspada tahun 2014 sebesar33.013.214 ton. Dengan kebutuhan beras sebesar 33 juta ton padatahun 2014, maka apabila harusada surplus 10 juta ton sebagaic adangan, berarti harus adaproduksi beras minimal 43 juta ton. Bila produksi beras tidak memenuhi kebutuhan pangan nasional, maka pemerintah terpaksa impor.Tidak terpenuhinya ketersediaan pangan diIndonesia oleh produksi nasional, penyebabnya antara lain meningkatnya jumlah penduduk, alihfungsi lahan dari pertanian menjadi lahan nonpertanian, seperti jalan, perumahan, pabrik danlain sebagainya. Kondisi cuaca yang tidak menentu juga mempunyai pengaruh terhadap turunnya produksi hasil pertanian pangan nasional.

Dalam kondisi seperti ini tentunya pemerintah tidak tinggal diam dan terus berupaya agar kebutuhanpangan nasional tercukupi dengan cara berswasembada pangan dari hasil produksi dalam negeri. Kalau pun harus impor itu ditekan seminimal mungkin kuantitasnya. Untuk mengurangi impor serta untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, produksi beras dalam negeri harus ditingkatkan. Demikian pula dalam memenuhi kebutuhan akan tanaman penghasil karbohidrat lain yang dapat dikembangkan menjadi bahan diversifikasi pangan di Indonesia. Upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, satu di antaranya dengan memperhitungkan pemanfaatan teknologi nuklir, seperti yang dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Teknik yang digunakan adalah melakukan pemuliaan tanaman dengan teknologi mutasi radiasi. Inovasi teknologi nuklir di bidang pertanian telah terbukti mampu membantu pemerintah dalam penyediaan benih berkualitas. Benih tersebut antara lain padi, kedelai, sorgum, kacang hijau,dan gandum. Benih berkualitas harus memiliki

keunggulan, antara lain daya hasil yang tinggi atau berlimpah, berumur pendek, tahan terhadap hama penyakit dan kekeringan. Tingkat produktivitas padi varietas hasil pemuliaan mutasi radiasi rata-rata menghasilkan 7 ton per hektar, bahkan potensinya diatas 9 ton per hektar. Sedangkan rata-rata produksi padi nasional hanya sebesar 5,01 ton per hektar. Varietas hasil litbang BATAN telah mencapai 10 persen jumlah varietas unggul tanaman pangan dan telah ditanam di lahan seluas 3 juta hektar sejak tahun 2000. Sampai saat ini, BATAN telah menghasilkan 20 varietas unggul padi, 6 varietas kedelai, 1 varietas kacang hijau. “Selain itu juga sudah direkomendasikan untuk dilepas 2 varietas kedelai sangat genjah, 1 varietas sorgum dan gandum, kita tinggal menantikan SK Menteri Pertanian saja”, kata Dr. Sobrizal, peneliti pertanian BATAN. Diharapkan sorgum bisa menggantikan posisi gandum sebagai bahan pembuat mie instan.

BATAN dengan teknologi nuklir tidak saja meningkatkan potensi pangan utama, seperti beras, tetapi juga menggali potensi sumbersumber pangan baru yang selama ini terabaikan, seperti sorgum yang sudah dikenal sebagai bahan pangan pokok sejak ratusan tahun lalu di kawasan Indonesia Timur. Untuk menggali dan mengembangkan potensi sumber-sumber pangan baru di Indonesia yang luas ini, BATAN memperhatikan kondisi tanah yang sangat beragam dan disesuaikan dengan kearifan lokal. Satu tanaman unggul di suatu tempat belum tentu akan tumbuh baik di tempat lainnya. Contoh, salak pondoh mungkin hanya bisa tumbuh bagus dan berkualitas di Yogyakarta dan sekitarnya, namun tidak akan tumbuh dan berbuah bagus jika ditanam di Jakarta. Masingmasing daerah mempunyai kondisi tanah dan iklim yang berbeda-beda.

Semestinya kita bersyukur dengan kondisi alam demikian itu semua jenis tanaman pangan bisa tumbuh. Untuk daerah yang basah dan curah hujan yang cukup banyak bisa ditanami padi, dan daerah yang tanahnya kering bisa digunakan untuk bertanam sorgum. Untuk tanaman gandum yang harus tumbuh di kawasan beriklim dingin, BATAN kini tengah mengembangkan gandum tropis dataran rendah. Saat ini satu varietas gandum yang diberi n ama G a n e s a ( g a n d um Indonesia) siap untuk dilepas dan menunggu SK Menteri Pertanian. Pemanfaatan teknologi nuklir di bidang kesehatan dan reproduksi ternak juga berperan untuk meningkatkan produksi daging dan susu. BATAN, mempunyai kelompok penelitian yang terkait dengan kesehatan dan reproduksi ternak. Salah satu kegiatannya membuat vaksin iradiasi untuk mencegah penyakit Fasciolosis (cacing hati pada ternak ruminansia) pada sapi agar tidak terjadi penurunan volume daging atau susu pada sapi. Proses pembuatan vaksin ini sedang diupayakan untuk mendapatkan paten. Saat ini juga diupayakan pembuatan vaksin mastitis (radang kelenjar susu), serta teknik nuklir pembuatan vaksin iradiasi Brucellosis untuk mencegah penyakit keguguran menular pada sapi betina.

Peran teknologi nuklir lainnya dalam reproduksi yang disebut radioimunoassay (RIA), untuk memperbaiki penampilan reproduksi ternak ruminansia. Dengan menggunakan teknologi ini kita bisa memperbaiki manajemen reproduksinya. Tanpa teknologi ini, reproduksi dan angka kelahiran ternak tidak menentu, bahkan setahun sekali belum tentu. Upaya BATAN lainya untuk berperan dalam meningkatkan produksi ternak melalui pembuatan formula pakan berkualitas. Sedangkan untuk perikanan digunakan hormon methyl testosteron alami untuk pejantanan ikan dan Suplemen Pakan Ikan (SPI) agar dia bisa lebih lincah dan gemuk. Teknologi inipun sudah diaplikasikan ke masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Keragaman yang ada di alam pada prinsipnya berdasarkan mutasi alam atau mutasi spontan. Mutasi alam memerlukan proses panjang sampai waktu ratusan bahkan ribuan tahun. Pemuliaan mutasi dengan sinar gamma bisa mempercepat mutasi lebih cepat dan tentu saja aman. Semua produk hasil litbang BATAN baik di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan tidak menimbulkan efek samping bagi konsumen.

Sistem Safety dan Security Nuklir Indonesia Jadi Percontohan

Sistem Safety dan Security Nuklir Indonesia Jadi Percontohan

Jakarta—Bicara nuklir tentu saja tidak melulu tentang bahaya bom atom, kebocoran radiasi atau pemanfaatan teknologi bagi aspek kehidupan manusia di berbagai bidang. Satu hal mesti diketahui adalah masalah safety dan security di mana letak reaktor nuklir dan bahan nuklir itu berada.

Bagaimanapun,safety dan securityuntuk mencegah agar bahan nuklir tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Demikian pula dengan keberadaan fasilitas nuklir seperti reaktor nuklir harus dijaga keamanannya 24 jam dalam sehari. Tidak bisa dan tidak boleh diakses oleh orang-orang yang tidak berkepentingan apalagi dengan maksud yang tidak baik.

Safety di bidang nuklir sangat terkait hubungannya dengan security. Safety adalah salah satu komponen utama yang selalu yang ditekankan di dalam pelaksanaan permanfaatan teknologi nuklir. “Masalah safety dan security pada penggunaan teknologi nuklir, akhir -akhir ini menjadi perhatian dari masyarakat dunia yang mengelola dan bergerak memanfaatkan teknologi nuklir.Intinya safety dan security ini dimaksudkan bagaimana melindungi masyarakat dan lingkungan dari bahaya radiasi,”ungkap Kepala Pusat Kemitraan Teknologi Nuklir (PKTN) Ferly Hermana yang ditemui di kantornya di kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Lebih jauh dijelaskan Ferly, security adalah menjaga agar sumber radioaktif dan bahan nuklir tidak berpindah tangan ke orang yang tidak bertanggung jawab. Keterkaitan safety dan security, intinya bila security lemah otomatis akan berdampak padasafety-nya.

Masalah safety dan security itu sudah diatur dalam peraturan International Atomic Energy Agency (IAEA) yang mengikat bagi setiap anggotanya. Dan, Indonesia juga telah mengatur hal yang sama dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Perka BAPETEN) No.1 Tahun 2009 tentang Sistem Proteksi Fisik untuk InstalasidanBahanNuklir. BAPETEN selaku badan pengawas yang intinya mengatur keamanan sumber radiasi dan keamanan fasilitas nuklir. ”Untuk fasilitas nuklir itu adanya di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta. Sedangkan bahan nuklir adanya di BATAN Pasar Jumat, Jakarta,”tutur Ferly yang baru saja pulang dari Malaysia. Di sana dia mempresentasikan tentang safety dan security fasilitas dan bahan nuklir.

Ferly juga memaparkan bahwa tugas dari PKTN mengkoordinasi-kan keamanan di kawasan nuklir Serpong bila ada kedaruratan nuklir. “Sistem keamanan dan keselamatan di kawasan ini termasuk yang terbaik di regional Aseandan akan menjadi percontohan di kawasan Asia Pasifik. Bahkan, para pengamat nuklir mengatakan bahwa infrastruktur di Kawasan Nuklir Serpong sudah menyelenggarakan sistem proteksi fisik yang baik sebagai pusat nuklir di Indonesia,”ungkap Ferly. Diibaratkan oleh para ahli nuklir dan pengamat nuklir, infrastruktur Kawasan Nuklir Serpong seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam skala yang kecil.

Sejauh ini di kawasan Puspiptek Serpong diterapkan physical protection atau proteksi fisik yang memiliki tiga fungsi yakni Detection,Delay, dan Response. Deteksi dengan menggunakan alat-alat deteksi diperuntukkan melihat ruangan berbagai kegiatan dan aktifitas baik indoor maupun outdoor. Dari sebuah ruangan yang berisi belasan monitor terpantau berbagai kegiatan di sana.

Sedangkan Delay, pagar- pagar yang dibuat sesuai dengan aturan dan dibuat berlapis. Ketika memasuki Kawasan NuklirSerpong, maka disebut zona atau limited area. Bila sudah memasuki kawasan BATAN disebut protected area. Protected area yang dibatasi pagar kuning hanya orangorang yang berkepentingan saja yang bisa memasuki area itu dan dengan menggunakan kartu khusus yang tidak dimiliki semua orang. Area lebih ke dalam lagi yaitu area yang lebih dekat ke pusat bahan nuklir, yang disebut inner area. Untuk bisa masuk ke area ini pengawasan keamanan lebih ketat lagi.”Jadi, pengamanan berlapis-lapis, kelihatannya kaku dan keras, tapi lebih baik kami mencegah dari pada menanggulangi jikasudah ada kejadian,”ungkap Ferly.

Fungsi physical protection yang ketiga adalah Respon yang diselenggarakan oleh Unit Pengamanan Nuklir (UPN). “Kita punya tim-tim UPN tim rescue, tim damkar, tim medis, tim lingkungan,tim keteknikan,”jelas Ferly. Ferly juga menjelaskan ketika memasuki area Puspiptek, siapa saja yang akan memasuki kawasan yang dikelolanya akan ditanyakan keperluan dan mau bertemu dengan siapa.”Nah ketika mobil berhenti, sebelum masuk ke dalam, di perhentian mobil atau kendaraan motor itu sudah ada kamera pemantau hingga ke bagian bawah kendaraan. Jadi, di bawah mobil itu tersedia kamera,”paparnya. Jalur jalan pun tidak dibuat lurus tapi berbelok-belok agar tidak langsung, dan menghambat ke tempat tujuan, agar apabila ada yang bermaksud tidak baik bisa dicegah terlebih dahulu.

Prosedur keamanan, setiap kendaraan baikmobil maupun motor yang masuk diperiksa dan harus mempunyai pass ranmor yang mencantumkan nama pemilik kendaraan dan nomor plat kendaraan. Demikian juga setiap pegawai harus menggunakan badge selama di dalam kawasan.

Untuk yang masuk lokasi pagar kuning ada alat magnetic card reader yang dapat memonitor keluar masuk karyawan, masuknya kapan dan jam berapa? Jadi bila ada kejadian, bisa didetek siapakah pegawai tersebut masih ada di dalam pagar kuning atau sudah ada di luar. Dan, tidak semua yang bisa masuk pagar kuning kemudian bisa masuk reaktor nulklir. Ada pagar dan lapisan lagi yang harus dilewati dengan ketentuan yang makin ketat. Kondisi yang agak ribet itu disadari oleh Ferly sebagai penanggung jawab. Namun, demi safety dan security tadi harus ditegakkan.”Semua itu kami lakukan demi keamanan dan keselamatan kita semua, termasuk kami yang menjadi pengelola di kawasan sini maupun masyarakat di luar sana,”tutur Ferly lagi.

Untuk tetap waspada dengan keamanan dan keselamatan setiap tahunnya Tim Respon melakukan latihan dengan rutin dan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan."Alhamdulillah sejak reaktor riset ini berdiri hingga dua puluh enam tahun kemudian, kita tetap aman dan selamat. Bahkan mendapat pujian dari berbagai negara untuk masalah safety dan security” Ferly mengungkapkan.

Membangun Ketahanan Pangan dengan Rekayasa Bibit

Membangun Ketahanan Pangan dengan Rekayasa Bibit

BENCANA tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 2004 lalu tidak hanya menelan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang maha dasyat. Kiamat kecil tersebut juga berpotensi menyebabkan warga Serambi Mekah terancam bahaya kelaparandalam jangka panjang.

Pasalnya, saat tsunami terjadi, luapan air laut juga menggenangi sawah-sawah, lumbung padi hingga merusak bibit tanaman yang disimpan di gudang atau lumbung. "Air bah menyapu mayoritas stok bibit padi yang ada di Aceh. Hampir sebagian besar bibit (padi) asli Aceh musnah tersapu ombak atau lapuk terendam air," kisah pengajar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Prof Lukman Hakim saat ditemui pada lokakarya Pemanfaatan Hasil Litbang Iptek Nuklir (PHILN) 2012, beberapa waktu lalu, di Serang, Banten.

Mengatasi kelangkaan bibit yang berpotensi mengancam ketahanan pangan publik,bantuan bibit dari pusat pun mulai dialirkan ke sana. Salah satu lembaga yang menyumbangkan bibit padi ialah Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Pembagian bibit pada petani dilakukan lewat kemitraan dengan perusahaan, pemda, dan lembaga pendidikan seperti Universitas Syiah Kuala.

Lembaga tersebut menyumbangkan bibit padi hasil pemuliaan tanaman dengan radiasi atau yang dikenal dengan istilah teknik mutasi radiasi. Pada tahap awal, sekitar 2006, BATAN menyumbangkan 1,2 ton bibit padi varietas terbaru Yuwono dan Mayang untuk disebar di Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Besar.

"Alhamdulillah, uji coba pertama langsung sukses," cetus Lukman. Jika dengan bibit lama rata-rata hanya menghasilkan 4,2 ton beras per hektare (ha), dengan Yuwono dan Mayang sekali panen rata-rata bisa mencapai 8 ton per ha. Walhasil petani pun puas dengan bibit bantuan BATAN. Hanya sayang, kata Lukman, ketika petani mulai jatuh cinta dengan bibit BATAN, bibit itu susah dicari di pasaran. "Bibit langka karena tidak ada penangkaran. Kalau mau ambil harus pesan ke BATAN." Baru pada 2007 upaya penangkaran bibit dari BATAN bisa dilakukan di NAD. Kali ini, petani bisa menggunakan varietas bibit terbaru yaitu Diahsuci dan Mira I. Menurut Lukman, Diahsuci disukai di Bireun karena bobot padi lebih berat kala ditimbang sehingga pendapatan petani lebih tinggi.

Saat ini, umumnya petani di Aceh sudah menggunakan benih varietas super asli hasil rekayasa BATAN, yaitu Inpari Sidenuk. Selain lebih tahan terhadap hama wereng dan pengerek batang, Inpari Sidenuk juga bisa dipanen 10 hari lebih cepat jika dibandingkan dengan varietas unggulan BATAN lainnya seperti Bestari. Kisah sukses penggunaan bibit hasil radiasi nuklir tidak hanya ada di Aceh, tetapi juga dialami oleh Zainul Hakam, 42, petani asal Kecamatan Kasemen, Kota Serang,Banten.

Kelompok petani binaan Zainul kini menggunakan Mira-1. Kalau dengan bibit biasa hanya menghasilkan 6 ton per ha, kini dengan Mira I bisa menghasilkan 8 ton per ha. Zainul mengatakan, petani sekarang harus melek teknologi. Pasalnya, lahan pertanian semakin sempit termakan untuk pembangunan dan industri. "Dengan teknologi, tanah 0,4ha hasilnya setara dengan panen di lahan 1 ha," tuturnya.

Penyinaran DNA
Alih fungsi lahan pertanian untuk nonpertanian sebagai konsekuensi dari laju pertumbuhan, suka atau tidak suka, memang telah mengancam ketahanan pangan nasional. Berkaca dari hal itu, wajar jika Kepala BATAN Djarot S Wisnubroto berpendapat penggunaan benih unggul dengan sifat produktivitas tinggi, daya adaptasi luas, nilai nutrisi tinggi, umur genjah, serta tahan terhadap hama dan penyakit mutlak dilakukan di saat lahan pertanian yang semakin sempit.

Agar diperoleh varietas baru yang unggul, BATAN melakukan proses radiasi dengan penyinaran sinar gamma dengan dosis tertentu. Penyinaran yang dilakukan harus menembus biji tanaman hingga pada lapisan DNA (gen pembawa sifat keturunan). Penyinaran DNA bisa membawa perubahan sifat pada turunannya. Dari teknik ini, lanjut Djarot, sifat-sifat baru yang lebih unggul dari induknya seperti daya hasil, daya adaptasi, umur tanaman, tahan hama akan dimunculkan. Tentu saja, sambungnya, penyinaran radiasi telah terjamin tidak mengakibatkan biji menjadi bersifat radioaktif.

Berangkat dari sejumlah kisah sukses varietas bibit unggulan hasil rekayasa BATAN, Djarot bertekad untuk mensosialisasikan hasil penelitian lembaga ini ke seluruh petani di Indonesia dalam rangka memperkokoh ketahanan pangan. Pada 2012 ini, lanjut dia, penggunaan produk hasil Litbang BATAN telah dipakai di sekitar 1.560 ha tanaman padi dan 44 ha tanaman kedelai, serta pada penggunaan suplemen pakan ternak untuk 180 ekor sapi.

"Agar sosialisasi dan evaluasi pemanfaatan riset BATAN terpantau, sejak 1999, lanjut Djarot, BATAN rutin mengadakan lokakarya Pemanfaatan Hasil Litbang Iptek Nuklir (PHLIN). Dengan menggaet sejumlah mitra di daerah baik dari pemda, universitas dan swasta, Djarot berharap pemanfaatan teknologi mutasi radiasi ini bisa semakin luas bisa diaplikasikan di masyarakat.

"Yang terpenting masyarakat teredukasi bahwa teknologi nuklir tidak identik dengan sesuatu energi yang menyeramkan, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk pertanian, kesehatan dan bidang lainya," tuturnya. (Sidiq-sumber media indonesia)

Perangi Demam Berdarah dengan Teknik Serangga Mandul

Perangi Demam Berdarah dengan Teknik Serangga Mandul

Teknik Serangga Mandul (TSM) yang dikembangkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dapat menjadi cara pengendalian baru nyamuk demam berdarah (DB). Sejak tahun 2011, metode TSM telah diaplikasikan di beberapa kota di Tanah Air. Hasilnya, TSM mampu menurunkan populasi nyamuk hingga di atas 90%.

"TSM merupakan produk inovasi terbaru pengendalian nyamuk yang layak dijadikan andalan pengendalian DB," kata Kasubdit Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kementerian Kesehatan, Winarno, dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) dan BATAN di Salatiga, Jawa Tengah, Selasa (25/9) lalu.

Selain diuji coba di Salatiga, TSM juga sudah dilaksanakan di Kabupaten Banjarnegara (Jateng) dan Bangka Barat (Bangka Belitung). Meskipun kota-kota yang diuji coba memiliki karakteristik berbeda, TSM terbukti tetap dapat diaplikasikan dan mampu menurunkan populasi vektor secara drastis.

Namun demikian, Kepala B2P2VRP Bambang Heriyanto berharap, kedepannya TSM bisa jadi andalan membasmi nyamuk penyebab DBD (Demam Berdarah Dengue). Walau masih membutuhkan kajian lebih dalam lagi. "Namun yang jelas dengan turunnya jumlah vektor, jumlah gigitan kepada manusia pun berkurang," ujarnya.

Di Salatiga, uji coba TSM dilakukan di dua kelurahan yakni Sidorejo dan Glontongan, Februari lalu. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga, Sovie Hariyanti, sejak TSM diaplikasikan, pihaknya tidak menemukan adanya kasus DBD di dua kelurahan tersebut. "Harapan saya TSM bisa diaplikasikan di seluruh kelurahan di Salatiga," ujarnya.

Metode yang digunakan BATAN sebenarnya tidak terlalu rumit. Mulanya, peneliti menyeleksi nyamuk jantan dan memandulkannya dengan radiasi nuklir gamma berdosis 70 Gy. Nyamuk jantan yang telah mandul kemudian dilepas di rumah warga dan dibiarkan bersaing secara alamiah untuk mengawini nyamuk betina. "Dengan begitu, pembiakan telur bisa diputus," ujar peneliti BATAN Ali Rahayu.

Nyamuk jantan dipilih karena nyamuk ini tidak berperan sebagai vektor dan lazimnya tidak menggigit manusia. Berbeda dengan nyamuk betina yang harus menghisap darah manusia secukupnya untuk mematangkan telur-telurnnya. Untuk setiap rumah, BATAN melepas 40 hingga 60 ekor nyamuk jantan mandul. Pelepasan nyamuk dilakukan secara reguler sekali sepekan selama lima pekan berturut-turut.

Menurut Ali, meskipun terkena radiasi gamma, nyamuk jantan mandul dapat bersaing secara normal dalam perburuan membuahi betina. "Nantinya nyamuk jantan mandul yang akan memenangkan persaingan karena jumlahnya lebih besar," ujarnya.

Hama jantan mandul yang kawin dengan nyamuk betina tidak menghasilkan keturunan. Setelah beberapa generasi berturut-turut dilepaskan, maka populasi hama akan terus menurun sampai angka nol. "Sesuai dengan umur nyamuk yang hanya satu setengah bulan," jelas Ali lagi.

TSM, lanjut Ali, juga lebih ramah lingkungan dibanding fogging atau pengasapan yang mengandung racun. Untuk satu paket TSM, warga per satu RT hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 75 ribu.

"Bandingkan dengan metode fogging yang satu paketnya mencapai Rp 1,5 juta. Selain itu, fogging terus-menerus dengan dosis yang kurang tepat juga dapat berpotensi membuat nyamuk resisten terhadap insektisida," tandasnya.

(Media Indonesia)

Riset Iptek Nuklir Bisa Hasilkan Kedelai Unggul.

Riset Iptek Nuklir Bisa Hasilkan Kedelai Unggul.

Di tengah hiruk pikuk krisis kedelai, muncul nama Harry Is Mulyana. Periset kedelai sejak 1982 di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) itu menyesalkan krisis yang terjadi saat ini.

Penemu enam varietas kedelai nasional yang sudah diuji coba di 23 provinsi ini mengatakan krisis kedelai tidak perlu terjadi bila pemerintah berpihak kepada petani. Lebih jauh tentang krisis kedelai, berikut petikan wawancara dengan Harry Is Mulyana.

Apa saja varietas kedelai yang anda hasilkan?

Awalnya varietas guntur pada 1983, kemudian varietas Muria pada 1987. Keunggulan varietas hasil iradiasi nuklir ini tahan penyakit karat daun karena adanya bakteri rhizobium yang menempel pada bintil akar. Bakteri ini menyebabkan kedelai memiliki antibodi sehingga tidak gampang kena penyakit.

Kemudian pada 1991 muncul varietas Tengger yang ditanam di tanah genjah. Delapan tahun kemudian ditanam varietas Meratus. Barulah pada 2004 diterbitkan varietas Rajabasa yang hanya bisa ditanam di tanah yang pH lebih rendah atau lahan gambut. Varietas Rajabasa ini tumbuh subur di wilayah gambut Kalimantan.

Saya kemudian mengembangkan varietas Mitani yang tahan penyakit karat daun serta serangga apis penyebab virus pada kedelai. Dua tahun kemudian muncul Mutiara-1. Ukuran kedelainya lebih besar. Varietas Mutiara-1 saya ciptakan karena terinspirasi kedelai impor yang besar-besar.

Sudah uji lokasi dimana saja?

Sudah di 23 propinsi. Tidak semua saya ingat di kota atau di kabupaten mana. Untuk Jawa Timur di Blitar, Jember, Banyuwangi, sedangkan pusat penelitian kedelainya di Malang. Kemudian di Jawa Tengah ada di Grobogan deket Semarang. Di Grobogan ada varietas kedelai lokal yang jadi ikon daerah, namanya varietas kedelai Grobogan. Di Jawa Barat ada di Garut dan Majalengka. Di Kalimantan juga ada, Sulawesi, Sumatera, Sumatera, Nusa Tenggara, dan Bali. Papua dan Maluku belum, karena dana riset kami terbatas.

Apa keunggulan Mutiara-1 jika dibandingkan dengan varietas kedelai impor?

Varietas Mutiara-1 ini memiliki berat rata-rata 23,3 gram per 100 biji, atau dua kali lipat dari rata-rata kedelai unggul nasional yang beratnya 12-15 gram per 100 biji. Kedelai Mutiara-1 ini mampu mensubtitusi kebutuhan industri tahu tempe nasional yang saat ini masih bergantung pada kedelai impor. Hasil uji ternyata kandungan proteinnya tinggi mencapai 37,7 % rasanya lebih gurih karena kandungan minyaknya lebih banyak. Kalau kedelai impor pasti bukan kedelai segar, stock lama. Rasanya tidak gurih.

Ada keunggulan lainnya?

Varietas Mutiara-1 mempunyai rendemen tahu mencapai 373,3% dan rendemen tempe sebesar 193,3%. Artinya setiap 1 Kg kedelai Mutiara-1 mampu menghasilkan 3,77 Kg tahu dan 1,933 Kg tempe, sedangkan kedelai impor hanya mencapai 323% untuk rendemen tahu dan 188,3% untuk rendemen tempe.

Kedelai varietas Mutiara-1 ini mempunyai rata-rata hasil yang tinggi mencapai 2,43 ton per/ha di atas produksi rata-rata varietas Burangrang maupun varietas Wilis yang mencapai 2,2 ton dan 2,3 ton/ha. Sedangkan Rajabasa yang baru saja dipanen di Maros, Sulawesi Selatan, mampu mencapai 4 ton/ha.

Apakah kedelai non impor bisa memenuhi kebutuhan nasional?

Oh, jelas sudah bisa memenuhi kebutuhan nasional. Dari uji lokasi saja sudah terbaca berapa kemampuan produksinya. Contohnya di Maros, Sulawesi Selatan baru saja panen varietas Rajabasa sebanyak 4 ton/ha. Ini sama dengan di Jambi. Kemudian di Banyuwangi rata-rata panen untuk varietas Mitani dan Rajabasa rata-rata 2,5 ton/ha. Kenapa berbeda, karena tergantung kondisi alamnya.

Namun rata-rata produksi nasional 1,3 ton/ha sekarang ini harus ditingkatkan menjadi 1,6 ton/ha untuk bisa swasembada. Apalagi 2 ton/ha. Sebenarnya bisa digenjot sampai disitu. Semua itu sangat tergantung dengan bagaimana sikap pemerintah.

Kalau dulu bisa (swasembada), sekarang harusnya bisa lebih maju lagi bukan malahan menjadi pengimpor. Masalahnya ada di tata niaga petani kesulitan harga, makanya hanya mampu segitu saja, kalau mau ditambah, bisa, tapi keberpihakan pada petani tidak ada.

Dari segi teknologi pertanian, apakah Indonesia sudah menguasai?

Sudah, di Indonesia banyak sekali varietas unggulan baik lokal maupun nasional. Ini harus dilindungi dan dikembangkan. Masalahnya bagaimana pemerintah mendukung semua ini. Mulai dari harga, lahan, dan sebagainya. Pemerintah harusnya mendorong petani menanam kedelai dengan tetap memberi kesejahteraan kepada petani.

(Sidiq/Arial – Sumber : Media Indonesia)

Deteksi Toxin PSP Dalam Kekerangan Dengan Teknik Nuklir.

Deteksi Toxin PSP Dalam Kekerangan Dengan Teknik Nuklir.

Kekerangan merupakan salah satu produk perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Produk ini selain dikonsumsi di dalam negeri juga merupakan produk yang diekspor dalam bentuk beku dan dikalengkan. Imdonesia telah mengekspor hasil laut ke berbagai negara seperti Cina, Uni Eropa, Jepang, Amerika Serikat, Taiwan, dan Singapura. Ekspor tersebut cenderung meningkat sejak tahun 1999 (644.604 ton) sampai dengan 2008 (911.674 ton).

Dalam rangka memberikan jaminan mutu dan keamanan pangan komoditas produk laut segar dan olahan yang akan diekspor, perlu dilakukan pengawasan pengendalian mutu hasil perikanan. Kekerangan setelah ditangkap dari perairan laut, belum tentu mempunyai mutu yang baik. Mutu produk kekerangan sangat dipengaruhi oleh perairan dimana kekerangan tersebut ditangkap. Berbagai wilayah perairan di Indonesia sering terjadi blooming phytoplankton dari jenis dinoflagellata (HAB). Plankton ini mampu menghasilkan toksin yaitu saxitoxin dan derivatnya yang bersifat neurotoksin dan mempunyai sifat stabil terhadap suhu. Kerang yang mempunyai sifat feeding filter mampu mengakumulasi toksin ini tanpa mempengaruhi kerang itu sendiri. Manusia yang mengkonsumsi kerang yang telah tercemar oleh toksin ini dengan cepat akan terkena dampak dengan sindrom yang dikenal sebagai PSP (paralytic shelfish poisoning) dan bisa mengakibatkan kematian.

Kejadian HAB di perairan laut Indonesia telah mengalami peningkatan. Hal ini menyebabkan bertambahnya jumlah masyarakat yang keracunan akibat mengkonsumsi kerang yang telah tercemar oleh toksin ini. Juga menyebabkan devisa dari ekspor produk laut menurun karena tidak memenuhi standar kualitas ekspor yang ditetapkan.

Salah satu persyaratan mutu untuk ekspor produk laut terutama ke negara Uni Eropa harus bebas dari toksin PSP. Oleh karena itu program pemantauan adanya toksin PSP dalam kerang harus dilakukan.

Analisis toksin PSP di Indonesia biasanya dilakukan dengan bioassay menggunakan tikus. Metode ini mempunyai batas deteksi minimum 40 µg STX/ 100 g kerang basah, Oleh karena itu metode analisis yang spesifik, sensitif dan cepat diperlukan untuk mengetahui adanya toksin PSP dalam kekerangan. Di samping itu, oleh karena masalah etika yang berkaitan dengan penggunaan binatang hidup, di beberapa negara telah menggunakan metode alternatif. Salah satu metode alternatif yang dapat digunakan untuk menentukan kandungan toksin PSP yaitu dengan teknik nuklir secara receptor binding assay.

Metode ini mampu mendeteksi toksin PSP dalam kerang sampai 1 µg STX/ 100 g kerang basah. Dengan melakukan deteksi toksin PSP dengan metode ini, diharapkan dapat memberikan jaminan bahwa kekerangan Indonesia aman untuk dikonsumsi masyarakat dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor.

Kegunaan: Metode alternatif yang dapat digunakan untuk menentukan kandungan toksin PSP dalam kekerangan

Keuntungan Teknis: Mampu mendeteksi toksin PSP dalam kerang sampai 1 µg STX/ 100 g kerang basah.

Status Teknologi: Pengembangan Teknologi.

Pemuliaan Tanaman Sorgum Menggunakan Teknik Mutasi Irradiasi Gamma.

Pemuliaan Tanaman Sorgum Menggunakan Teknik Mutasi Irradiasi Gamma.

Sorgum varietas PAHAT (Pangan Sehat) adalah hasil penelitian pemuliaan tanaman sorgum menggunakan teknik mutasi dengan iradiasi gamma di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Sorgum PAHAT memiliki beberapa keunggulan di antaranya berbatang semi-dwarf, berumur genjah, warna biji putih bening, tahan penyakit karat daun dan memiliki potensi hasil tinggi mencapai 5,03 ton/ha. Kandungan protein tinggi mencapai 12,08 %, kadar lemak 2,42 %, kadar karbohidrat 72,86% dan kadar tanin rendah 0,012%

Kegunaan :

  • Biji ideal untuk pangan
  • Daun dan batangnya dapat digunakan untuk pakan ternak

Keuntungan Teknis/Ekonomis

  • Tahan kekeringan sehingga dapat ditanam pada musim kering dimana tanaman pangan lain sulit tumbuh.
  • Umur genjah memungkinkan dapat ditumpang sarikan dengan tanaman pangan lain atau perkebunan.
  • Produksi biji relatif tinggi dibanding kontrol sehingga memberikan hasil atau pendapatan petani yang lebih tinggi.
  • Mendukung program diversifikasi pangan (ketahanan pangan).
  • Produksi biomasa yang tinggi sehingga sangat menguntungkan untuk pakan ternak.
  • Mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan dengan peningkatan produktivitas laan-lahan marginal.

Status Teknologi:
Varietas PAHAT telah dilepas sebagai varietas sorgum baru oleh Kementerian Pertanian

Mengapa Perlu Pembangkit Listrik Dari Nuklir.

Mengapa Perlu Pembangkit Listrik Dari Nuklir.

Jakarta. Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengakui, dibanding negara tetangga lainnya Indonesia paling siap membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). “Secara infrastruktur kita paling siap membangun PLTN dibandingkan negara lain, sayangnya belum ada keputusan pemerintah untuk Go nuklir” ujarnya.

Dalam pemanfaatannya listrik yang dihasilkan dari PLTN memiliki keunggulan, antara lain:

  • Energi Bersih: Tidak mengeluarkan gas berbahaya seperti CO2, SOX dan NOX. Saat ini setiap tahun 25 milyar ton CO2 dilepas ke atmosfir, menyebabkan efek rumah kaca dan berujung pada pamanasan global. PLTN ramah lingkungan karena mampu mengurangi emisi CO2 yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil sehingga PLTN adalah solusi energi dalam mencegah pemanasan global.
  • Stabil dan efisien: PLTN mampu menghasilkan energi yang besar, dengan kesetaraan 1 gram EU (enrichment uranium) sebanding dengan 112 kg batubara membuat PLTN tidak membutuhkan bahan bakar. Penggantian bahan bakar dengan waktu 1,5 tahun membuat PLTN sangat efisien. Sehingga fluktuasi naik turunnya harga uranium tidak akan berpengaruh harga jual listrik dari PLTN.
  • Menjamin ketersediaan energi; Meningkatnya permintaan energi listrik sebesar 7,1% pertahun, ditambah lagi dengan krisis listrik yang terjadi belakangan ini, dibutuhkan pembangkit listrik yang mampu mensuplai energi listrik dengan daya besar.
  • Limbah dan daur bahan bakar: Untuk satu unit PLTN 1000 Mwe dengan operasi 40 tahun, hanya membutuhkan tempat penyimpanan limbah berukuran 3X4X10 m3. Limbah itu sendiri merupakan bahan bakar yang sudah terpakai (spent fuel). Namun demikian limbah itu juga merupakan aset yang berharga dimasa mendatang karena mampu didaur ulang menjadi bahan bakar PLTN lagi. Faktanya limbah nuklir jauh lebih aman daripada limbah industri lain, karena secara umum tatakelola limbah nuklir lebih diatur dan diawasi secara nasional dan internasional, sebagaimana pengoperasian PLTN itu sendiri. Limbah nuklir jauh lebih sedikit dibanding limbah B3 dari industri lain sehingga mudah dikelola dan diawasi
  • Diversifikasi energi: PLTN akan mengurangi kebergantungan terhadap energi fosil. Kehadiran nuklir bukan untuk mengganti energi fosil tapi sebagai pelengkap untuk menjamin ketersediaan energi. Hal ini juga akan menyebabkan stabilnya harga jual listrik meskipun harga minyak dan batubara naik.
  • Penguasaan teknologi: Karena kemampuannya menghasilkan energi listrik yang besar, maka akan memacu pertumbuhan ekonomi dan mendorong perkembangan industri. Stabilitas ekonomi adalah jaminan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
  • Ekonomis: Biaya PLTN jauh lebih besar dikonstruksi dibandingkan dengan biaya bahan bakarnya. Dengan umur pembangkit yang mampu mencapai 60-70 tahun menyebabkan harga listrik PLTN paling murah jika dibanding dengan pembangkit lainnya.

Sudah saatnya kita berani menggunakan energi nuklir dengan tetap mengutamakan keselamatan. Apalagi tak kurang dari IAEA sendiri dalam banyak kesempatan mengatakan Indonesia adalah salah satu negara yang lebih siap menggunakan PLTN dan unggul di kawasan dalam pemanfaatan nuklir di bidang non-energi seperti pertanian, pangan dan kesehatan.

Periksa Ginjal Murah di RS Annur, Jogja

Periksa Ginjal Murah di RS Annur, Jogja.

Jogja. Mulai Rabu, 18 April yang lalu teknisi BATAN menginstal peralatan kesehatan yang bernama Renograf di Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) An Nur, jalan Colombo no. 14-16 Yogyakarta. Hal ini dipersiapkan bertepatan dengan menyambut hari ulang tahun ke 4 rumah sakit tersebut.

RSKB An Nur yang khusus menangani urologi merasa tertarik dengan hasil litbangyasa iptek nuklir di bidang kesehatan. Kegiatan ini dilatarbelakangi dengan survei potensi pasar khusus bidang kesehatan yang dilakukan BATAN bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat tahun 2011 yang lalu di Yogyakarta. Hasil survei menunjukkan data menyangkut kasus, sumber daya manusia dan peralatan yang berkaitan dengan penanganan masalah ginjal.

Kamis 20 April 2012 dilakukan kegiatan pelatihan calon tenaga medis untuk mengoperasikan renograf di rumah sakit tersebut. Owner RSKB An Nur, Dr. Danarto, Sp.B., Sp.U., pada pembukaan pelatihan mengatakan bahwa dengan tersedianya renograf ini, bisa lebih memperbaiki pelayanan kesehatan untuk masalah ginjal. Soal biaya, jelas lebih murah dari pada menggunakan peralatan gamma kamera. Dibandingkan gamma kamera, perangkat renograf tidak dapat menghasilkan citra organ yang diperiksa, namun tidak kalah dalam keakuratan data.

Pelatihan calon tenaga medis untuk mengoperasikan renograf diberikan oleh dr. Gogot Suyitno. Sp.Rad., Sp.KN. Dalam keterangannya dr. Gogot mengatakan bahwa jangan terlalu over estimate terhadap renograf, karena alat ini justru sangat sederhana dibanding alat pendeteksi ginjal lainnya. Dengan konstruksi desain renograf saat ini, memang terlihat sangat simpel. Namun Gogot mengingatkan bahwa operator harus berhati-hati ketika bekerja. Misalnya terhadap pasien over weight, bila peletakan kolimator pada alat tersebut tidak tepat, bukan tidak mungkin pengukuran menjadi tidak tepat (cross talk). Saat pemeriksaan, pasien silakan mendengarkan musik atau baca koran tapi posisinya tidak boleh berubah.

Kepala Bina Upaya Kesehatan Rujukan, Kementerian Kesehatan Dr. Chairul Radjab Nasution, Sp.PD., KGEH., Finasim., M.Kes., pada kesempatan tersebut menyampaikan agar pihak rumah sakit memperhatikan rakyat karena rumah sakit yang bersifat pro rakyat akan mendapatkan kemudahan apapun dari pihak Kementerian Kesehatan. “Yang penting bukan kemewahan rumah sakitnya, tetapi bagaimana keramahan orang-orang didalamnya”, demikian tegas Chairul.

Kelebihan Renograf dibandingkan dengan alat pemeriksaan yang lain, disamping tidak memerlukan ruangan besar, alat ini juga lebih murah dan mudah mengoperasikannya, sehingga biaya yang dikeluarkan oleh pasien dapat terjangkau. Alat ini bisa digunakan untuk mendeteksi fungsi ginjal dan melakukan screening, apakah salah satu atau kedua fungsi ginjal berfungsi dengan baik atau tidak. Meskipun harus menggunakan radioisotop, namun dosisnya lebih rendah dan waktu paro yang pendek sehingga aman bagi pasien yang menggunakannya.

Permen Untuk Tingkatkan Birahi Sapi.

Permen Untuk Tingkatkan Birahi Sapi.

Salah satu masalah umum yang dihadapi oleh peternak tradisional adalah rendahnya mutu pakan dengan kandungan serat kasar yang tinggi berupa jerami, rumput lapangan dan berbagai jenis hijauan lainnya. Jenis pakan tersebut sulit dicerna dan tidak dapat memberikan zat-zat nutrisi yang berimbang untuk mendukung produktivitas yang optimal.

Kalangan petani ternak sapi tentu pernah mendengar istilah permen sapi. Istilah ini dipakai untuk menyebut Urea Multinutrient Molases Block (UMMB), yakni pakan suplemen yang rasanya manis seperti permen yang diberikan untuk hewan ternak ruminansia seperti, sapi, kerbau, kambing.

Ir. Suharyono peneliti bidang peternakan BATAN mengatakan bahwa suplemen pakan ternak yang telah lama diteliti BATAN ini merupakan pakan imbuan bagi ternak ruminansia yang didalamnya mengandung gizi yang bermanfaat. Cara pemberiannya, sapi hanya menjilat UMMB yang berbentuk blok selama 15-20 menit sebelum hewan diberi makan. Selanjutnya Suharyono mengatakan, “Dengan pemberian UMMB pada ternak ruminansia akan memperbaiki penampilan ternak, meningkatkan pertumbuhan berat badan, kualitas produksi susu ternak, perbaikan kinerja dan reproduksi, dan kelangsungan hidup”.

Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi BATAN melakukan penelitian dengan memanfaatkan teknik perunut radioisotop yang berkaitan dengan proses fermentasi yang terjadi dalam perut ternak ruminansia. Strategi untuk meningkatkan konsumsi pakan ternak pada kondisi pemeliharaan tradisional ialah dengan memberikan suplemen yang tersusun dari kombinasi bahan limbah sumber protein dengan tingkatan jumlah tertentu yang secara efisiensi dapat mendukung pertumbuhan, perkembangan dan kegiatan mikroba didalam rumen.

Selanjutnya produktivitas hewan dapat ditingkatkan dengan memberikan sumber N protein dan/atau non protein serta mineral tertentu. Suplementasi secara keseluruhan diharapkan dapat memberikan pengaruh baik melalui peningkatan protein mikrobial, peningkatan daya cerna dan peningkatan konsumsi pakan hingga diperoleh kesimbangan yang lebih baik antara asam amino dan energi didalam zat-zat makanan yang terserap.

Untuk menyesuaikan ketersediaan bahan pakan didaerah, maka dibuatlah 6 formula dengan berbagai komposisi yang bertujuan agar dapat diterapkan di daerah yang bahan bakunya dapat disesuaikan dengan formula tersebut. Bahan baku yang umum digunakan adalah urea, molasse, onggok, dedak, tepung tulang, lakta mineral (kalsium, sulfur), garam dapur, tepung kedelai, dan kapur.

Setiap Hari Kita Kena Radiasi.

Setiap Hari Kita Kena Radiasi.

Dalam tulang manusia terdapat polonium radioaktif dan radium radioaktif. Pengertian radioaktif adalah sifat dari sesuatu zat yang dapat memancarkan sinar radiasi karena kondisi zat itu yang tidak stabil. Otot kita mengandung karbon radioaktif dan kalium radioaktif, dan dalam paru-paru kita terdapat gas mulia radioaktif dan tritium. Zat-at ini dan banyak zat lainnya secara terus menerus memancarkan radiasi dan menyinari tubuh kita dari dalam. Selain itu kita juga terkena radiasi dari zat radioaktif alam dan buatan yang kita makan dan minum setiap hari.

Setiap waktu kita terkena radiasi baik dari bumi dan angkasa. Selain pembangkit listrik tenaga nuklir, pembangkit dari batubara, minyak, gas, gambut juga mengeluarkan sejumlah radioaktif ke lingkungan. Sebagian dosis radiasi yang kita hirup setiap hari berasal dari bahan bangunan rumah kita, radon namanya.

Rumah kita bisa juga mengandung zat radioaktif yang kita bawa ke dalam rumah. Zat tersebut digunakan pada jarum arloji, tombol listrik dan kompas yang berpijar dalam gelap, ornamen porselen tertentu, dan layar televisi kitapun mengeluarkan radiasi.

Kesehatan kita dilindungi oleh radiasi, saat kita menjalani pemeriksaan dengan sinar-X dan mammografi, atapun saat melakukan pemeriksaan dan pengobatan medik yang memerlukan zat-zat radioaktif yang disuntikkan kedalam tubuh kita.

Contoh-contoh ini secara jelas menunjukkan bahwa tidak semua radiasi berbahaya. Sebaliknya, memang benar radiasi bisa membunuh dengan cepat atau secara perlahan. Oleh karena itu baik untuk diketahui, kapan seseorang takut terhadap radiasi dan kapan seharusnya tidak takut. Manakah yang fakta dan mana yang fiksi.

Perubahan iklim global sebenarnya hal yang pasti akan terjadi.

Perubahan iklim global sebenarnya hal yang pasti akan terjadi.

Salah satu permasalahan global dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup adalah ancaman perubahan iklim (climate change). Perubahan iklim global pasti akan terjadi karena iklim itu sendiri bersifat dinamis secara alami, namun campur tangan manusia menyebabkan perubahan iklim berjalan lebih cepat secara signifikan

Faktor penyebab siklus perubahan iklim ini salah satunya adalah manusia, dimana peningkatan pemanasan global (global warming) diakibatkan kebutuhan dan aktifitas manusia yang luar biasa, sehingga mengabaikan keseimbangan lingkungan. Sangat disayangkan, teknologi yang selama ini berkembang pesat juga turut berkontribusi besar terhadap isu pencemaran lingkungan, sebut saja teknologi pada sektor transportasi, industri, energi dan sebagainya. Namun dewasa ini muncul inisiatif pemanfaatan teknologi “hijau” yang mampu menjawab kebutuhan manusia tanpa harus mencemari lingkungan, bahkan mampu merekondisi lingkungan sehingga kembali lestari.

Ide teknologi ramah lingkungan ini sudah cukup lama berjalan, dan terbukti mampu memperlambat perubahan iklim jika dilakukan secara masif dan kontinyu. Pemanfaatan teknologi ramah lingkungan dalam sektor energi menjadi salah satu bentuk implementasi nyata, sebab hingga saat ini sektor energi memberi kontribusi terbesar dalam emisi gas rumah kaca, yakni sebesar dua pertiga dari total emisi dan 30% dari nilai tersebut disumbang oleh pembangkitan energi listrik, terutama dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas dan batubara.

Berkaca dari permasalahan tersebut, inisiatif pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan (EBT) dalam pembangkitan energi listrik terus didorong pemanfaatannya di dunia. Beberapa teknologi pembangkit listrik seperti PLT Geotermal, PLT Angin, PLT Surya adalah contoh dari teknologi hijau untuk energi. Perlu disebutkan pula Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang minimal emisi gas rumah kaca keudara dalam pengoperasiannya, namun memiliki potensi energi yang sangat besar dibandingkan sumber energi baru terbarukan lainnya.

Khusus untuk PLTN, negara-negara maju dan berkembang di dunia sudah sejak lama mengembangkan dan melirik potensinya. Begitupun yang seharusnya dilakukan oleh bangsa kita. Permasalahannya bukan pada ketidakmampuan SDM dan pengusaan teknologi yang kita miliki, namun pada kepercayaan publik dan trauma kejadian dimasa lalu yang dikhawatirkan terulang kembali. Padahal teknologi PLTN berkembang demikian pesatnya dan terus berkembang dalam mengutamakan hal keselamatan dan keamanan agar segala resiko yang ada dapat terus ditekan.

Selain PLTN, nuklir memiliki kontribusi yang nyata dalam menjawab tantangan kelestarian lingkungan. Misalnya teknologi nuklir untuk pemuliaan tanaman jarak yang dimanfaatkan sebagai sumber energi biodiesel, pemantauan lepasan CO2 pada industri menggunakan akselerator, pengendalian laju sedimentasi di wilayah pantai dengan menggunakan teknik perunut, bioremediasi atau pengembalian fungsi lahan rusak, dan sebagainya.

Diharapkan pemanfaatan berbagai teknologi hijau dalam sektor energi ini akan dapat membantu target nasional dimana negara kita memiliki komitmen bersama komunitas internasional untuk dapat menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada tahun 2020. Masyarakat perlu diinformasikan bahwa masih banyak teknologi yang dapat diteliti dan dikembangkan untuk menjawab kebutuhan manusia tanpa harus membebani bumi dengan pencemaran lingkungan. Selain itu penting untuk menumbuhkan keinginan disemua kalangan untuk terlibat dalam pengembangan teknologi hijau ini.

Kayu Yang Diradiasi Bisa Lebih Awet

Kayu Yang Diradiasi Bisa Lebih Awet

Teknologi polimerisasi radiasi adalah teknologi nuklir yang dapat diaplikasikan pada industri polimer. Hal ini untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi dengan bantuan sinar radiasi sebagai sumber energi. Radiasi berfungsi untuk mempermudah, mempercepat atau memperbaiki reaksi kimia yang diperlukan dalam proses polimerisasi.

Di negara maju, teknologi polimerisasi radiasi telah dimanfaatkan dengan baik. Belanda misalnya, tahun 1973 perusahaan pintu Swedex membangun pabrik pelapisan permukaan pintu dengan radiasi elektron. Kemudian tahun 1974 perusahaan meubel Parisot dari Perancis juga memanfaatkan teknologi ini, diikuti perusahaan lain dari Jerman Barat dan Amerika Serikat.

Industri perkayuan di Indonesia berkembang dengan pesat. Hal tersebut terlihat dengan jumlah industri pengolah kayu menjadi bahan jadi atau setengah jadi, misalnya kayu lapis, papan partikel, meubel, kayu lantai, panel dinding, dan masih banyak lagi. Indonesia merupakan negara potensial untuk pemanfaatan teknologi ini, karena kaya bahan polimer alam seperti karet dan kayu.

Bahan yang akan diolah menjadi produk baru dapat berupa polimer, monomer, dan oligomer. Polimer lateks/karet alam, polietilen, polipropilen, prolivinil klorida. Sedangkan monomer digunakan misalnya strirena, metil, metaklirat, akrilonintrit, dan sebagainya.

Dengan mengendalikan jenis presentase monomer, serta dosis radiasi, akan didapat kondisi optimum proses polimerisasi radiasi. Dengan proses polimerisasi radiasi akan dihasilkan produk baru yang lebih kuat, ulet, keras, kenyal, dan lain sebagainya. Proses ini tidak memerlukan bahan kimia pemercepat dan panas karena sudah dilakukan dengan sinar radiasi. Proses ini mudah dikontrol, sederhana, cepat, bebas pencemaran baik udara maupun limbah paat. Produk yang dihasilkan dari proses ini tidak mengandung bahan beracun/karsinogen.

Nuklir Bisa Hasilkan Padi Unggul

Nuklir Bisa Hasilkan Padi Unggul

Jangan selalu takut dengan radiasi nuklir, karena bisa jadi nasi yang kita makan setiap hari adalah beras yang dihasilkan dari proses radiasi nuklir. Salah satunya adalah yang berasal dari benih Mira-1, hasil litbang BATAN dalam bidang pertanian. Mira-1 merupakan varietas yang potensial dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pangan nasional. Varietas yang telah mendapatkan sertifikasi dari Departemen Pertanian tersebut mampu menghasilkan 9,20 ton/ha dengan rata-rata produksi 6,9 ton/ha gabah kering giling.

Padi yang berjejer rapi di sawah-sawah pedesaan bukan merupakan sesuatu yang kebetulan terjadi, tetapi merupakan kerja keras nenek moyang kita selama beberapa abad. Manusia telah menyilangkan dan menyeleksi galur hingga diperoleh galur padi dengan varietas yang unggul. Disisi lain hama dan penyakit utama padi sawah di Indonesia, terutama dilahan sawah irigasi antara lain Wereng Coklat Nilaparvata Lugens Stal dan penyakit hama daun bakteri Xanthomonas Oryzae. Hama penyakit tersebut dapat menyerang tanaman padi pada semua stadia, hal ini merupakan kendala biologis utama dalam meningkatkan produksi padi. Oleh karena itu tujuan pembentukan varietas unggul pada padi sawah masih ditekankan pada ketahanan terhadap hama wereng coklat dan penyakit bakteri hawar daun disamping sifat-sifat yang lain seperti produksi tinggi, umur genjah, kualitas beras bagus, tekstur pulen.

Sehubungan dengan hal tersebut pemerintah pada tahun 1999, melepas varietas Cisantana yang mempunyai sifat tahan wereng coklat biotipe 1, 2 dan agak tahan biotipe 3, tahan penyakit hawar daun strain III, tekstur nasi pulen tetapi kualitas berasnya kurang bagus. Disamping itu bulu yang ada pada ujung gabah dari sebagian jumlah gabah pada malai menyebabkan varietas Cisantana tidak disenangi petani.

Untuk memperbaiki sifat-sifat tersebut Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi(PATIR) BATAN pada tahun 2000 telah melakukan perbaikan varietas Cisantana dengan teknik mutasi. Dari kegiatan penelitian tersebut diperoleh galur mutan Obs-1688/PsJ. Setelah melalui seleksi dan pemurnian, uji daya hasil dan uji ketahanan terhadap hama wereng coklat dan penyakit bakteri hawar daun ternyata galur mutan Obs-1688/PsJ mempunyai sifat produksi tinggi, umur genjah, tahan hama wereng coklat biotipe 2 dan agak tahan biotipe 3, tahan penyakit bakteri hawar daun strain III dan agak tahan strain IV, dengan tekstur nasi pulen, mutu dan kualitas beras bagus. Selanjutnya galur mutan Obs-1688/PsJ pada 6 Maret 2006 telah dilepas oleh Menteri Pertanian dengan Surat Keputusan No.134/Kpts/SR. 120/3/2006 dan diberi nama varietas Mira-1.

Dari sebaran khusus untuk varietas padi Mira-1 hingga saat ini telah tersebar lebih dari 600.000 hektar dan sebagai informasi bahwa total kumulatif sebaran benih unggul padi hasil litbang BATAN ( 14 varietas ) telah mencapai lebih dari satu juta hektar yang tersebar di 23 Propinsi.

Selain Mira-1, masih ada 16 varietas lagi yang dihasilkan dari riset iptek nuklir bidang pertanian. Varietas-varietas tersebut bernama Atomita-1, Atomita-2, Atomita-3, Atomita-4, Cilosari, Meraoke, Woyla, Winongo, Kahayan, Diah Suci, Mayang, Yuwono, Pandan Putri (varietas lokal daerah Garut), Situ Gintung (Padi gogo), Bestari, Inpari Sidenuk. Sampai saat ini BATAN masih terus mengembangkan varietas berikutnya untuk menghasilkan padi yang selalu baik.

Belajar Nuklir Dari Pelajaran Sejarah

Belajar Nuklir Dari Pelajaran Sejarah

Bandung, Kesan angker yang melekat pada nuklir ini harus terhapus dengan pemahaman yang benar. Nuklir bukan lagi senjata atau bom yang memusnahkan. Saat ini seluruh negara di dunia harus mencegah penggunaan nuklir untuk senjata. Kegiatan Nuclear Goes To School yang dilakukan Pusat Diseminasi Iptek Nuklir BATAN adalah kegiatan sosialisasi pemanfaatan iptek nuklir melalui kegiatan kelas di sekolah. Melalui kegiatan ini diharapkan bisa menghapus kesan seram nuklir.

Wajar saja sebagian orang merasa takut dan kuatir dengan nuklir karena sejak sekolah dasar, pelajaran tentang nuklir diberikan melalui pelajaran sejarah yaitu ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Amerika. Kemudian melalui pelajaran fisika di SMA baru dipelajari kembali.

Kepala Pusat Diseminasi Iptek Nuklir BATAN, Ir. Ruslan mengatakan bahwa pihak BATAN sangat terbuka dalam menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan iptek nuklir. Kalangan pelajar dan mahasiswa bisa saja mengundang pihak BATAN untuk melakukan sosialisasi iptek nuklir.

Menurut Adipurwa Muslich dari Pusat Diseminasi Iptek Nuklir BATAN, dalam keterangannya dihadapan sekitar 160 siswa SMA Negeri 1 Bandung, “Janganlah kita terus tenggelam dalam ketakutan, karenanya penguasaan teknologi mutlak diperlukan, apalagi generasi muda seperti kalian”. Selanjutnya Adipurwa mengatakan bahwa ketakutan masyarakat terhadap nuklir ataupun radiasi lebih disebabkan pada sejarah dan trauma masa lalu. Ketika itu Amerika menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atomnya. Selain itu juga disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap iptek nuklir. “Setiap hari kita dikelilingi radiasi dan tubuh kitapun memancarkan radiasi. Bayangkan 81 persen kita menerima radiasi dari alam, sedangkan sisanya adalah radiasi buatan”, tegas Adipurwa.

Materi edukasi yang diberikan ke sekolah-sekolah meliputi pengetahuan tentang radiasi, aplikasi iptek nuklir diberbagai bidang kehidupan, kelembagaan BATAN, dan penelusuran informasi iptek nuklir.


Pentolan Greenpeace Itupun Pro Nuklir

Pentolan Greenpeace Itupun Pro Nuklir

Jakarta. Aktivis lingkungan hidup yang juga merupakan salah seorang pendiri Greenpeace Patrick Moore menyatakan Greenpeace telah melakukan kesalahan besar dengan menyamakan bom nuklir dan energi nuklir (PLTN) serta menolak apapun yang menyangkut nuklir dan radiasi.

Menurutnya bom nuklir dan energi nuklir adalah dua hal yang jauh berbeda. Energi nuklir seharusnya disejajarkan dengan kedokteran nuklir yang memiliki banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Energi nuklir yang sangat besar mampu untuk memenuhi kebutuhan energi dan menjamin stabilitas energi bagi suatu negara. Hal ini disampaikannya saat menjadi keynote speaker dan pada saat konferensi pers dalam Seminar Internasional yang bertema “Energi Berkelanjutan Untuk Pembangunan Nasional” di Hotel Sultan Jakarta, pada tanggal 9 Mei 2011 tahun lalu.

Lebih lanjut Patrick menyampaikan kritik kepada Greenpeace yang menolak energi fosil, menolak pembangunan bendungan untuk PLTA karena menggangu ekosistem, dan menghapus opsi nuklir sama sekali. Hal itu menurutnya adalah sebuah omong kosong karena artinya menghapus hampir semua sumber energi besar dan sama sekali tidak menjamin kebutuhan energi.

Patrick Poore lahir di Port Alice, British Columbia pada tahun 1947 dan dibesarkan di Winter Harbour, Vancouver Island. Patrick Moore besar di keluarga yang berhubungan erat dengan kehutanan dan perikanan. Moore mendapatkan gelar PhD di bidang ekologi pada Institute of Animal Resource Ecology, Universitas British Columbia.

Dalam bukunya, Confessions of a Dropout Greenpeace, dibagian awal Moore menjelaskan bagaimana kesediaan dirinya untuk membela ilmu pengetahuan dalam menghadapi kepentingan politik, sehingga memicunya terjun dalam dunia aktivis lingkungan.

Gerakan lingkungan hidup sebagian besar berasal dari negara-negara yang sudah maju dan berkecukupan dari berbagai bidang, gerakan ini jika tanpa didasari basis keilmuan yang matang justru akan menghambat kemajuan negara berkembang. Pembangunan berkelanjutan adalah hal mutlak yang harus diperhatikan selain faktor lingkungan.

Aktivis yang mendirikan Greenpeace bersama teman-temannya pada tahun 1971, telah aktif melakukan kampanye dan gerakan menolak uji coba senjata nuklir di berbagai negara, pernah menjabat selama 9 tahun sebagai Presiden Greenpeace Kanada, juga Direktur Greenpeace Internasional selama 7 tahun sebelum mengundurkan diri dari Greenpeace pada tahun 1996 ini mengungkapkan saat ini Greenpeace sudah tidak rasional dan cenderung seperti sekte agama yang tidak lagi mengedepankan diskusi dalam mencari solusi pemenuhan kebutuhan energi bersih.

Greenpeace disebut oleh Patrick sudah menutup semua opsi energi nuklir tanpa melihat fakta-fakta obyektif yang ada. Saat ini nuklir sudah menyumbang lebih dari 15% listrik dunia dan secara signifikan mengurangi emisi CO2 di beberapa negara. Untuk senjata nuklir pendiriannya sendiri masih tetap menolak sampai kapan pun namun pandangannya tentang energi nuklir telah berubah.

Artikel Lainnya